Penentuan Kondisi Pengendapan Optimum dari Koagulasi-Flokulasi
LAPORAN
TETAP PRAKTIKUM
Teknologi
Pengolahan Limbah
Penentuan Kondisi
Pengendapan Optimum dari Koagulasi-Flokulasi

DISUSUN
OLEH :
KELOMPOK
I :
1. Anadiya Morlina (061330401007)
2. Ariyo Dwisaputra (061330401008)
3. Jannatul Fitri (061330401011)
4. Mega Silvia (061330401016)
5. Muhammad Dody Afrillyana (061330401018)
6. Rifa Nurjihanti (061330401021)
7. Siti Nurjanah (061330401025)
KELAS : 2KD
INSTRUKTUR :
Ir.Siti
Chodijah, M,T.
POLITEKNIK
NEGERI SRIWIJAYA PALEMBANG
TAHUN
2014
PENENTUAN KONDISI PENGENDAPAN
OPTIMUM DARI KOAGULASI
– FLOKULASI
I.
TUJUAN
·
Menentukan kondisi optimum pengendapan
dari koagulasi dan flokulasi dengan metoda jar test
·
Mengendapkan dosis optimum dari
koagulasi
II.
ALAT
DAN BAHAN YANG DIGUNAKAN
Ø Alat
yang digunakan :
ü Jar-test
kit
ü Gelas
piala 600 ml, 6 buah
ü pH-meter
ü Turbiditimeter
ü Kerucut
imhorff
ü Stopwatch
ü Labu
ukur 1 liter, 1 buah
ü Pipet
ukur 10 ml, 1 ml ; 1:1 buah
Ø Bahan
yang digunakan :
ü Tawas
ü Aquadest
III.
DASAR
TEORI
Kekeruhan,
salah satu parameter fisik dalam persyaratan kualitas air minum, disebabkan
adanya partikel-partikel kecil dan koloid dalam air. Partikel dan koloid itu
antara lain zat organik, protein, kuarts, tanah liat, dan lain-lain.
Koloid
memiliki muatan listrik di permukaan nya yang mengakibatkan kestabilannya dalam
air. Untuk mendestabilisasi muatan koloid digunakan koagulan, seperti senyawa
garam besi atau garam aluminium sulfat. Destabilisasi koloid menggunakan
koagulan dilakukan dengan pengadukan cepat beberapa saat. Lalu dengan
pengadukan lambat koloid tidak stabil tersebut akan bertumbukan dan menyatu
membentuk flok-flok yang lebih besar. Karena gaya gravitasi, maka flok yang
besar akan cepat mengendap.
Koagulan
garam aluminium sulfat yang umum dipakai adalah tawas (alum). Hidrolisa atom Al
dalam air menurut reaksi umum :
Adanya
ion H+ akan menyebabkan penurunan pH. Di sisi lain, proses flokulasi
akan berlangsung baik pada pH 6 – 8; pada saat pembentukan 2Al(OH)3 secara
efektif. Sehingga apabila koagulasi – flokulasi dilakukan pada air dengan
alkilasi rendah, perlu ditambahkan kapur mati atau kapur terhidrasi.
Endapan
CaSO3 dapat berperan sebagai pembantu pengendapan.
Koagulasi didefinisikan sebagai proses destabilisasi muatan koloid padatan tersuspensi termasuk bakteri dan virus, dengan suatu koagulan. sehingga akan terbentuk flok-flok halus yang dapat diendapkan, proses pengikatan partikel koloid. Pengadukan cepat (flash mixing) merupakan bagian integral dari proses koagulasi. Tujuan pengadukan cepat adalah untuk mempercepat dan menyeragamkan penyebaran zat kimia melalui air yang diolah. Koagulan yang umum dipakai adalah alumunium sulfat, feri sulfat, fero sulfat dan PAC.
Umumnya partikel-partikel tersuspensi atau koloid dalam air buangan memperlihatkan efek Brownian. Permukan partikel-partikel tersebut bermuatan listrik negatif. Partikel-partikel itu menarik ion-ion positif yang terdapat dalam air dan menolak ion-ion negatif. Ion-ion positif tersebut kemudian menyelubungi partikel-partikel koloid dan membentuk lapisanrapat bermuatan didekat permukannya. Lapisan yang terdiri dari ion-ion positif itu disebut dengan lapisan kokoh (fixed layer). Adanya muatan-muatan pada permukaan partikel koloid tersebut menyebabkan pembentukan medan elektrostatik di sekitar partikel itu sehingga menimbulkan gaya tolak-menolak antar partikel. Disamping gaya tolak-menolak akibat muatan negatif pada partikel-partikel koloid, ada juga gaya tarik manarik antara 2 patikel yang dikenal dengan gaya Van der Walls. Selama tidak ada hal yang mempengaruhi kesetimbangan muatan-muatan listrik partikel koloid, gaya tolak menolak yang ada selalu lebih besar dari pada gaya Van der Walls, dan akibatnya partikel koloid tetap dalam keadaan stabil (Farooq dan Velioglu, 1989).
Jika ion-ion atau koloid bermuatan positif (kation) ditambahkan kedalam koloid target koagulasi, maka kation tersebut akan masuk kedalam lapisan difusi karena tertarik oleh muatan negatif yang ada permukaan partikel koloid. Hal ini menyebabkan konsentrasi ion-ion dalam lapisan difusi akan meningkat. Akibatnya, ketebalan lapisan difusi akan berkurang (termampatkan kea rah permukaan partikel). Pemampatan lapisan difusi ini akan mempengaruhi potensial permukaan partikel koloid, gaya tolak menolak antar partikel serta stabilitas partikel koloid. Penambahan kation hingga mencapai suatu jumlah tertentu akan merubah besar partikel kesuatu tingkat dimana gaya tarik menarik Van der Walls antar partikel dapat melampaui gaya tolak menolak yang ada. Dengan demikian, partikel koloid dapat saling mendekati dan menempel satu sama lain serta membentuk mikroflok. (Farooq dan Velioglu, 1989).
Ion-ion atau koloid bermuatan positif (kation) yang ditambahkan untuk meniadakan kestabilan partikel koloid tersebut dapat dihasilkan dari senyawa organic dan anorganik tertentu yang disebut koagulan. Zat kimia yang digunakan dalam proses ini meliputi ion-ion metal seperti alumunium atau besi, yang mana akan terhidrolisa dengan cepat untuk membentuk presipitat yang tidak larut dan polielektrolit organik alam atau sintetik, yang mana dengan cepat teradsoprsi pada permukaan partikel koloid, dengan demikian mempercepat laju pembentukan agregat dari partikel koloid (Montgomery, 1985).
Flokulasi
Flokulasi merupakan proses pembentukan flok, yang pada dasarnya merupakan pengelompokan/ aglomerasi antara partikel dengan koagulan (menggunakan proses pengadukan lambat atau slow mixing), Proses pengikatan partikel koloid oleh flokulan. Pada flokulasi terjadi proses penggabungan beberapa partikel menjadi flok yang berukuran besar. Partikel yang berukuran besar akan udah diendapkan.
Agar patikel koloid dapat menggumpal, gaya tolak-menolak elektrostatik antara partikelnya harus dikurangi dan transportasi partikel harus menghasilkan kontak diantara partikel yang mengalami destabilisasi. Setelah partikel-partikel koloid mengalami destabilisasi, adalah penting untuk membawa partikel-partikel tersebut ke dalam suatu kontak antara satu dengan yang lainnya sehingga dapat menggumpal dan membentuk partikel yang lebih besar yang disebut flok. Proses kontak ini disebut flokulasi.
Proses
pengolahan umumnya melibatkan proses fisika maupun kimia. Pada proses fisika
antara lain penyaringan (screening), filtrasi dan pengendapan, sedang proses
kimia umumnya netralisasi, koagulasi, flokulasi serta aerasi. Pengolahan air
buangan yang dilakukan dengan proses koagulasi dan flokulasibertujuan untuk memisahkan
polutan koloid tersuspensi dari dalam air dengan memperbesarukuran
partikel-partikel padat yang terkandung didalamnya.
Pada proses
koagulasi ditambahkan sejenis bahan kimia ke dalam air buangan dengan
sifat-sifat tertentu yakni dapatmemberikan muatan (+) yang akan menetralkan
muatan (-) yang pada umumnyadimilikioleh suatu koloid yang disebut koagulan.
Jenis
koagulan yang biasa ditambahkan antara lain : Al2(SO4)3, FeSO4, FeCl3, atauPAC
(Poly Alumunium Chlorida). Selain pembubuhan koagulan diperlukan
pengadukansampai flok-flok ini terbentuk dari partikel-partikel kecil dan
koloid yang bertumbukan dan akhirnya mengendap bersama-sama.
Flok-flok
yang telah terbentuk dipisahkan dari larutannya dengan sedimentasi. Sedimentasi
merupakan proses pemisahan partikel dari cairannya, baik partikel yang memang
telah ada di dalam air baku, yang terbentuk sebagai akibat penambahan bahan
kimia, maupunpartikel yang dihasilkan dari flokulasi fisis yang digabungkan
dengan pengolahan biologis,dengan memanfaatkan gaya gravitasi.
Kestabilan
koloid dapat dikurangi dengan proses koagulasi (proses destabilisasi) melalui
penambahan bahan kimia dengan muatan berlawanan. Terjadinya muatan pada
partikel menyebabkan antar partikel yang berlawanan cenderung bergabung
membentuk inti flok. Proses koagulasi selalui diikuti oleh proses flokulasi,
yaitu penggabungan intiflok atau flok kecil menjadi flok yang berukuran besar.
Proses koagulasi-flokulasi terjadi pada unit pengaduk cepat dan pengaduk
lambat. Pada bak pengaduk cepat, dibubuhkan bahan kimia (disebut koagulan).
Pengadukan cepat dimaksudkan agar koagulan yang dibubuhkan dapat tercampur
secara merata/homogen. Pada bak pengaduk lambat, terjadi pembentukan flok yang
berukuran besar hingga mudah diendapkan pada bak sedimentasi.
Koagulan
yang banyak digunakan dalam pengolahan air minum adalahaluminium sulfat atau
garam-garam besi. Kadang-kadang koagulan-pembantu, seperti polielektrolit
dibutuhkan untuk memproduksi flok yang cepat mengendap. Faktor utama yang
mempengaruhi koagulasi dan flokulasi air adalah kekeruhan, padatan
tersuspensi,temperatur, pH, komposisi dan konsentrasi kation dan anion, durasi
dan tingkatagitasiselama koagulasi dan flokulasi, dosis koagulan, dan jika
diperlukan, koagulan-pembantu.
Koagulasi
adalah dicampurkannya koagulan dengan pengadukan secara cepat guna
mendistabilisasi koloid dan solid tersuspensi yang halus, dan masa inti
partikel, kemudian membentuk jonjot mikro (mikro flok).
Adapun
faktor-faktor yang mempengaruhi proses koagulasi sebagai berikut :
Suhu air
Suhu air
yang rendah mempunyai pengaruh terhadap efisiensi proses koagulasi. Bila suhu
air diturunkan , maka besarnya daerah pH yang optimum pada proses kagulasi akan
berubah dan merubah pembubuhan dosis koagulan.
Derajat
Keasaman (pH)
Proses
koagulasi akan berjalan dengan baik bila berada pada daerah pH yang optimum.
Untuk tiap jenis koagulan mempunyai pH optimum yang berbeda satu sama lainnya.
Jenis
Koagulan
Pemilihan
jenis koagulan didasarkan pada pertimbangan segi ekonomis dan daya efektivitas
daripadakoagulan dalam pembentukan flok. Koagulan dalam bentuk larutan lebih
efektif dibanding koagulan dalam bentuk serbukatau butiran.
Kadar ion
terlarut
Pengaruh
ion-ion yang terlarut dalam air terhadap proses koagulasi yaitu : pengaruh
anion lebih bsar daripada kation. Dengan demikian ion natrium, kalsium dan
magnesium tidak memberikan pengaruh yang berarti terhadap proses koagulasi.
Tingkat
kekeruhan
Pada tingkat
kekeruhan yang rendahproses destibilisasi akan sukar terjadi. Sebaliknya pada
tingkat kekeruhan air yang tinggi maka proses destabilisasi akan berlangsung
cepat. Tetapi apabila kondisi tersebut digunakan dosis koagulan yang rendah
maka pembentukan flok kurang efektif.
Dosis
koagulan
Untuk
menghasilkan inti flok yang lain dari proses koagulasi dan flokulasi sangat
tergantung dari dosis koagulasi yang dibutuhkan Bila pembubuhan koagulan sesuai
dengan dosisyang dibutuhkan maka proses pembentukan inti flok akan berjalan
dengan baik.
Kecepatan
pengadukan
Tujuan
pengadukan adalah untuk mencampurkan koagulan ke dalam air. Dalam pengadukan
hal-hal yang perlu diperhatikan adalah pengadukan harus benar-benar merata,
sehingga semua koagulan yang dibubuhkan dapat bereaksi dengan partikel-partikel
atau ion-ion yang berada dalam air. Kecepatan pengadukan sangat berpengaruh
terhadap pembentukan flok bila pengadukan terlalu lambat mengakibaykan
lambatnyaflok terbantuk dan sebaliknya apabila pengadukan terlalu cepat
berakibat pecahnya flok yang terbentuk
Alkalinitas
Alkalinitas
dalam air ditentukan oleh kadar asam atau basa yang terjadi dalam air
(Tjokrokusumo, 19920. Alkalinitas dalam air dapat membentuk flok dengan
menghasil ion hidroksida pada reaksihidrolisa koagulan.
Flokulasi
adalah pengadukan perlahan terhadap larutan jonjot mikro yang menghasilkan
jonjot besar dan kemudian mengendap secara cepat (Tjokrokusumo, 1995).
Flokulasi adalah proses menghubungkan bahan kimia berupa flokulan agar
menggumpal sehingga membentuk partikel koloid atau flok mengendap yang lebih
besar.
Flokulasi
adalah proses pengadukan lambat agar campurankoagulan dan air baku yang telah
merata membentuk gumpalan atau flokdan dapat mengendap dengan cepat. Flokulasi
adalah penyisihan kekeruhan air dengan cara penggumpalan partikel untuk
dijadikan partikel yang lebih besar. Gaya antar molekul yang diperoleh dari
agitasi merupakan salah satufaktor yang berpengaruh terhadap laju terbentuknya
partikel flok. Flokulasi adalah suatu proses aglomerasi (penggumpalan) partikel
partikel terdestabilisasi menjadi flok dengan ukuran yang memungkinkandapat
dipisahkan oleh sedimentasi dan filtrasi. Proses flokulasi adalah proses
pertumbuhan flok (partikel terdestabilisasi atau mikroflok) menjadi flok dengan
ukuran yang lebih besar (makroflok).
Ada dua
jenis proses flokulasi yaitu :
Flokulasi
perikinetik
Flok yang
diakibatkan oleh adanya gerak thermal (panas) yang dikenal sebagai gerak Brown,
prosesnya disebut flokulasi perikinetik. Gerak acak dari partikel-partikel
koloid yang ditimbulkan karena adanya tumbuhan molekul-molekul air, akan
mengakibatkan terjadinya gabungan antar partikel lebih sangat kecil 1 < 100
milimikron (Sank R.K, 1986).
Flokulasi
orthokinetik
Flokulasi
orthokinetik adalah suatu proses terbentuknya flok yang diakibatkan oleh
terbentuknya gerak media (air) misalnya pengadukan (Sank R.K, 1986). Pada
umumnya kecepatan aliran cairan akan berubah terhadap tempat dan waktu.
Perubahan kecepatan dari satu titik ke titik lainnya dikeal sebagai gradien
kecepatan, dengan notasi G. Dengan adanya perbedaan kecepatan aliran
media cair akan mempunyai aliran kecepatan yang berbeda pula akibatnya akan
terjadi tumbukan atau kontak antar partikel.
Proses
flokulasi terdiri dari tiga langkah :
- Pelarutan reagen melalui
pengadukan cepat (1 menit ; 100 rpm)
- Pengadukan lambat untuk
membentuk dan menggambung flok (10 menit ; 60 rpm)
- Pemisahan flok-flok dengan
koloid yang terkurung dari larutan melalui pengendapan.
Faktor –
faktor yang mempengaruhi flokulasi :
Untuk
mencapai kondisi flokulasi yang dibutuhkan, ada beberapafaktor yang harus
diperhatikan, seperti misalnya :
- Waktu
flokulasi
- Jumlah
energi yang diberikan
- Jumlah
koagulan
- Jenis
dan jumlah koagulan/flokulan pembantu
- Cara
pemakaian koagulan/flokulan pembantu
- Resirkulasi
sebagian lumpur (jika memungkinkan)
- Penetapan
pH pada proses koagulasi
Reaksi kimia
untuk menghasilkan flok adalah:
Al2(SO4)3.14H2O
+ 3Ca(HCO3)2 → 2Al(OH)3 + 3CaSO4 + 14H2O + 6CO2
Pada air
yang mempunyai alkalinitas tidak cukup untuk bereaksi dengan alum, maka perlu
ditambahkan alkalinitas dengan menambah kalsium hidroksida.
Al2(SO4)3.14H2O
+ 3Ca(OH)2 →2Al(OH)3 + 3CaSO4 + 14H2O
Derajat pH
yang optimum untuk alum berkisar 4,5 hingga 8, karena aluminium hidroksida
relatif tidak terlarut.
- Pengadukan
Faktor
penting pada proses koagulasi-flokulasi adalah pengadukan.
Berdasarkankecepatannya, pengadukan dibedakan menjadi dua, yaitu pengadukan
cepat dan pengadukanlambat. Pengadukan cepat adalah pengadukan yang dilakukan
dengan gradien kecepatan besar(300 sampai 1000 detik-1), sementara pengadukan
lambat adalah pengadukan yang dilakukandengan gradien kecepatan kecil (20
sampai 100 detik-1). Waktu pengadukan juga berbeda.Pada pengadukan cepat, waktu
yang diperlukan tidak lebih dari 1 menit, sementarapengadukan lambat
membutuhkan waktu 15 hingga 60 menit.
Pengadukan
dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu cara mekanis, cara hidrolis, dan cara
pneumatis. Pengadukan mekanis adalah metoda pengadukan menggunakan alat
pengaduk berupa impeller yang digerakkan dengan motor bertenaga listrik.
Umumnya pengadukan mekanis terdiri dari motor, poros pengaduk, dan gayung pengaduk
(impeller). Pengadukan hidrolis adalah pengadukan yang memanfaatkan
gerakan air sebagai tenaga pengadukan. Sistem pengadukan ini menggunakan energi
hidrolik yang dihasilkan dari suatualiran hidrolik. Energi hidrolik dapat
berupa energi gesek, energi potensial (jatuhan) atauadanya lompatan hidrolik
dalam suatu aliran. Beberapa contoh pengadukan hidrolis adalah terjunan
loncatan hidrolis, parshall flume, baffle basin, perforated wall, gravel
bed dan sebagainya. Pengadukan pneumatis adalah pengadukan yang
menggunakan udara (gas) berbentuk gelembung yang dimasukkan ke dalam air
sehingga menimbulkan gerakan pengadukan padaair. Injeksi udara bertekanan ke
dalam suatu badan air akan menimbulkanturbulensi, akibat lepasnya gelembung
udara ke permukaan air. Makin besar tekanan udara, kecepatan gelembung udara
yang dihasilkan makin besar dan diperoleh turbulensi yang makin besar pula.
Koagulasi
adalah proses penggumpalan partikel koloid karena penambahan bahan kimia
sehingga partikel-partikel tersebut bersifat netral dan membentuk endapan
karenaadanya gaya grafitasi. Koagulasi juga merupakan penambahan koagulan dapat
menetralkan muatan dan meruntuhkannya yang berada di sekitar koloid sehingga
dapat menggumpal. Sedangkan koagulan adalah zat kimia yang menyebabkan
destabilisasi muatannegatif partikel di dalam suspensi. Zat ini merupakan donor
muatan positip yang digunakan untuk mendestabilisasi muatan negatip partikel.
Pada saat
praktikum, apabila air sampel masih asam, maka ditambahkan larutan kapur agar
menjadi basa. Kapur (lime) secara umum terdapat dalam dua bentuk yaitu CaO dan
Ca(OH)2. CaO adalah bahan mudah larut dalam air dan menghasilkan gugus
hidroksil yaitu Ca(OH)2. Yang bersifat basa dan disertai keluarnya panas yang
tinggi.
Menurut
Tarmiji, 1986, penggunaan dari kapur antara lain dibidang kesehatan lingkungan
untuk pengolahan air kotor, air limbah maupun industri lainnya. Pada pengolahan
air kotor, kapur dapat mengurangi kandungan bahan-bahan organik. Cara kerjanya
adalah kapur ditambahkan untuk mereaksikan alkalibikarbonat serta mengatur pH
air sampai sehingga menyebabkan pengendapan. Proses pengendapan ini akan
berjalan secara efektif apabila pH air antara 6 – 8 (Considine). Hydrate lime
dihasilkan dari reaksi quickime (CaO) dengan air, sehingga terbentuk Ca(OH)2.
Sifat-sifat
fisik dan kimia Hydrate lime :
- Bentuk
kristal, powder
- Warna,
sebagian besar umumnya berwarna putih dan pada tinhkat tinggi dapat
berwarna abu-abu.
- Kepadatan,
Kalsium Hydrated lime memiliki tingkat kepadatan kira-kira 2,3 g/gm3
- Kelarutan,
tingkat kelarutan dari kira-kira 1,85 Ca(OH)2/l air pada suhu 00C
sampai0,7g/l pada suhu 1000C.
- Netralisasi
asam , Hydrate lime siap bereaksi dengan asam dan gas sehingga tentu saja
berkemampuan menetralisasi asam. pH, karena kalsium hidroksida adalah
termasuk basa kuat, konsentrasi 0,10 g Ca(OH)2/l dapat memberi pH
kira-kira 11,3 pada suhu 250C. Pada larutan 250C, kandungan 1,8/l
memberikan pH sebesar 12,7. Kapur telah diikenal sebagai bahan yang dapat
dipergunakan untuk berbagai keperluan diantaranya dipakai pada
bidang-bidang industri misalnya industri kimia, kertas, dan lainlainnya,
sebagai bahan bangunan, pertanian dan lain-lain.
Khusus di
sektor lingkungan kapur dapat berguna dalam:
- Proses
pengolahan air, air kapur dapat berguna sebagai bahan penurun kesadahan,
menetralisasi keasaman, memperkecil kadar silika, mangan, fluorida dan
bahan-bahan organik. Selain itu dapat juga mengurangi kadar BOD dengan
cara menyerap antara 40% sampai 50 % bahan organik terlarut maupun tidak
terlarut.
- Proses
pengolahan air bekas, kapur dapat befungsi antara lain dalam pengendalian
keasaman digester, penyerapan bau (deodorant) dan sebagai desinfektan.
- Proses
pengolahan buangan industri besi/baja, kapur digunakan untuk menetralisir
asam sulfat bebas (free sulfuric acid ) dan mengendapkan garam-garam besi
yang terdapat pada limbah industri tersebut.
- Kapur
dapat digunakan untuk mengurangi gas SO2 yang keluar dari pembakaran batu
- bara
atau minyak yang mengandung sulfur yang tinggi melalui suatu proses yang
disebut “wet scrubing”.
- Pada
peternakan ayam, kapur dapat digunkan untuk mengeringkan serta mengurangi
bau kotoran ayam yang berceceran di laniat kandang. Selain itu juga dapat
berfungsi sebagai “geomedical” untuk mencegah parasit-parasit dan bnayak
penyakit ayam. Dosis yang biasa dipakai pada peternakan ayam adalah
sekitar 1 lb (0,45 kg) Hydrates Lime [Ca(OH)2] pada setiap 3-5 ft2
(2,79-4,65 m2) lantai yang mengandung kotoran ayam. Kapur juga dapat
dipergunakan sebagai penghilang fosfor dalam air, disini kapur berfungsi sebagai
bahan koagulan, karena salah satu cara penghilangan fosfor dalam air
adalah pengendapan kimiawi.
Selain itu,
proses penjernihan dengan jar test juga menggunakan tawas. Persenyawaan
Alumunium Sulfat (Al2(SO4)3) atau sering disebut tawas adalah suatu jenis
koagulan yang sangat populer secara luas digunakan, sudah dikenal bangsa Mesir
pada awal tahun 2000 SM. Alum atau tawas sebagai penjernih air mulai diproduksi
oleh pabrik pada awal abad 1500. Alum atau tawas merupakan bahan koagulan, yang
paling banyak digunkan karena bahan ini paling ekonomis 9murah), mudah
didapatkan di pasaran serta mudah penyimpanannya.
Reaksi yang
terjadi jika alum dimasukkan ke dalm air, yaitu terjadi proses hidrolisis, yang
sangat dipengaruhi oleh nilai pH yang bersangkutan. Range pH untuk jenis
koagulan alum adalah sebesar 5,5 sampai 7,8. Alum yang dilarutkan ke dalam air
akan bereaksi dengan kapur atau bahan lain seperti Soda Abu atau Natrium
Bikarbonat (Na2CO3), reaksi yang kan terjadi reaksi hipotik. Reaksi tersebut
antara ion Al dengan ion OH.
Sedangkan
alat utama yang digunakan dalam praktikum ini adalah jar test. Jar Test adalah
suatu percobaan skala laboratorium untuk menentukan kondisi operasi
optimum pada proses pengolahan air dan airlimbah. Metode ini dapat menentukan
nilai pH, variasi dalam penambahandosis koagulan atau polimer, kecepatan putar,
variasi jenis koagulan ataujenis polimer, pada skala laboratorium untuk
memprediksi kebutuhan pengolahan air yang sebenarnya.
Metode
JarTest mensimulasikan proses koagulasi dan flokulasi untuk menghilangkan
padatan tersuspensi (suspended solid) dan zat – zat organik yang dapat
menyebabkan masalah kekeruhan, bau, dan rasa. Jar Test mensimulasikan beberapa
tipe pengadukan dan pengendapan yang terjadi di clarification plant pada skala
laboratorium. Dalam skala laboratorium, memungkinkan untuk dilakukannya 6 tes
individual yang dijalankan secara bersamaan. Jartest memiliki variabel
kecepatan putar pengaduk yang dapat mengontrol energi yang diperlukan untuk
proses.
Prinsip
Jartest Suatu larutan koloid yang mengandung partikel-partikel kecil dan koloid
dapat dianggap stabil bila :
- Partikel-partikel
kecil ini terlalu ringan untuk mengendap dalam waktu yang pendek (beberapa
jam).
- Partikel-partikel
tersebut tidak dapat menyatu, bergabung dan menjadi partikel yang
lebihbesar dan berat, karena muatan elektris pada permukaan elektrostatis
antara partikel satudengan yang lainnya. Dengan pembubuhan koagulan
tersebut, maka stabilitas akan terganggu karena :
- Sebagian
kecil tawas tinggal terlarut dalam air, molekul-molekul ini dapat
menempelpada permukaan koloid dan mengubah muatan elektrisnya karena
sebagian molekul Albermuatan positif sedangkan koloid bisanya bermuatan
negatif (pada pH 5 – 8).
- Sebagian
besar tawas tidak terlarut dan akan mengendap sebagai flok Al(OH) 3yang
dapat mengurung koloid dan membawanya kebawah.
Bahan
koagulan lain yang dapat digunakan selain tawas adalah PAC (Poly Alumunium
Chloride). PAC adalah suatu persenyawaan anorganik komplek, ion hidroksil serta
ion alumunium bertarap klorinasi yang berlainan sebagai pembentuk polynuclear
mempunyai rumus umum Alm(OH)nCl(3m-n). Beberapa keunggulan yang dimiliki
PAC dibanding koagulan lainnya adalah :
- PAC
dapat bekerja di tingkat pH yang lebih luas, dengan demikian tidak
diperlukan pengoreksian terhadap pH, terkecuali bagi air tertentu.
- Kandungan
belerang dengan dosis cukup akan mengoksidasi senyawakarboksilat rantai
siklik membentuk alifatik dan gugusan rantai hidrokarbon yang lebih pendek
dan sederhana sehingga mudah untukdiikat membentuk flok.
- Kadar
khlorida yang optimal dalam fasa cair yang bermuatan negatifakan cepat
bereaksi dan merusak ikatan zat organik terutama ikatankarbon nitrogen
yang umumnya dalam truktur ekuatik membentuk suatu makromolekul terutama
gugusan protein, amina, amida dan penyusun minyak dan lipida. PAC tidak
menjadi keruh bila pemakaiannya berlebihan, sedangkan koagulan yang lain
(seperti alumunium sulfat, besi klorida dan fero sulfat) bila dosis
berlebihan bagi air yang mempunyai kekeruhan yang rendah akan bertambah
keruh.
- Jika
digambarkan dengan suatu grafik untuk PAC adalah membentuk garislinier
artinya jika dosis berlebih maka akan didapatkan hasil kekeruhan yang
relatif sama dengan dosis optimum sehinggapenghematan bahan kimia dapat
dilakukan. Sedangkan untuk koagulan selain PAC memberikan grafik parabola
terbuka artinya jika kelebihan atau kekurangan dosis akan menaikkan
kekeruhan hasil akhir, hal ini perlu ketepatan dosis.
- PAC
mengandung suatu polimer khusus dengan struktur polielektrolite yang dapat
mengurangi atau tidak perlu sama sekali dalam pemakaian bahan pembantu,
ini berarti disamping penyederhanaan juga penghematan untuk penjernihan
air.
- Kandungan
basa yang cukup akan menambah gugus hidroksil dalam airsehingga penurunan
pH tidak terlalu ekstrim sehingga penghematan dalam penggunaan bahan untuk
netralisasi dapat dilakukan.
- PAC
lebih cepat membentuk flok daripada koagulan biasa ini diakibatkandari
gugus aktif aluminat yang bekerja efektif dalam mengikat koloid yang
ikatan ini diperkuat dengan rantai polimer dari gugus polielektrolite
sehingga gumpalan floknya menjadi lebih padat, penambahan gugus hidroksil
kedalam rantai koloid yang hidrofobik akan menambah berat molekul, dengan
demikian walaupun ukuran kolam pengendapan lebih kecil atau terjadi over-load
bagi instalasi yang ada, kapasitas produksi relatif tidak terpengaruh. (http://smk3ae.wordpress.com)
Jartest
Jar Test adalah suatu percobaan skala laboratorium untuk menentukan kondisi operasi optimum
pada proses pengolahan air dan air
limbah. Metode ini dapat menentukan nilai pH, variasi
dalam penambahan dosis koagulan
atau polimer, kecepatan
putar, variasi jenis koagulan atau jenis polimer, pada
skala laboratorium untuk memprediksi kebutuhan pengolahan air yang sebenarnya.
Metode Jar Test mensimulasikan
proses koagulasi dan flokulasi
untuk menghilangkan padatan tersuspensi (suspended solid)
dan zat – zat organik yang dapat menyebabkan masalah kekeruhan, bau, dan rasa.
Jar Test mensimulasikan
beberapa tipe pengadukan dan pengendapan yang terjadi di clarification
plant pada
skala laboratorium.
Dalam skala laboratorium, memungkinkan
untuk dilakukannya 6 tes
individual yang dijalankan
secara bersamaan. Jar test memiliki
variabel kecepatan putar pengaduk yang dapat mengontrol energi
yang diperlukan untuk proses.
·
Prinsip Kerja Jar Test
Pada metode Jar Test, terdapat
dua tahap proses yaitu koagulasi dan
flokulasi. Jar Test dilakukan dengan
menggunakan alat yang disebut dengan Flocculator (seperti
ditunjukkan pada Gambar 2.7).
Flokulator adalah alat yang digunakan
untuk flokulasi. Saat
ini banyak kita menjumpai
berbagai macam flokulator, tetapi berdasarkan cara kerjanya flokulator dibedakan menjadi
3 macam : yaitu pneumatic, mekanik, dan baffle. Flokulator pada prinsipnya bertugas untuk melakukan
pengadukan lambat agar jangan sampai mikro flok yang sudah menggumpal
pecah kembali menjadi bentuk semula,
maka perlu adanya
desain khusus bentuk
flokulator tersebut.
IV.
PROSEDUR
KERJA
1.
Menyiapkan gelas piala 600 ml sebanyak 4
buah
2.
Menyiapkan contoh air dan mengukur ph
dan kekeruhan
3.
Mengisi contoh air sebanyak 400 ml ke
dalam masing-masing gelas. Jika pH awal tidak netral, mengatur pH limbah hingga
mencapai kisaran 6 – 8, kemudian ditaruh dibawah jar test
4.
Menambahkan larutan tawas 1 % secara
bertingkat mulai dari 2.5 ml, 5 ml, 7.5ml, dan 10 ml ke dalam masing masing
gelas piala
5.
Mengaduk dengan kecepatan 120 rpm selama
1 menit. Melanjutkan dengan pengadukan dengan kecepatan 45 rpm selama 10 menit
6.
Menuangkan secara perlahan dan hati hati
larutan dalam gelas ke dalam kerucut imporff
7.
Membiarkan flok-flok yang terjadi
mengendap
8.
Mengamati bentuk flok yang terjadi,
waktu mengendap dan volume flok yang terbentuk
9.
Mengukur dan mencatat pH, kekeruhan dan
warna dari supernatan yang ada.
V.
Data
Pengamatan
a. Contoh Air
pH = 6
Warna = keruh (kekuningan)
b. Air
Olahan
|
NO
|
Ml
tawas 1%
|
pH
|
Kekeruhan(mg/L.SiO2)
|
Waktu
pengendapan (menit) sebelum di tes kekeruhan
|
Waktu
pengendapan (menit) setelah di tes kekeruhan
|
|
1
|
2.5
|
4
|
39.4
|
10
|
12.49
|
|
2
|
5
|
4
|
37.9
|
10
|
11.22
|
|
3
|
7.5
|
4
|
24.7
|
10
|
10.42
|
|
4
|
10
|
4
|
16.7
|
10
|
10
|
Kekeruhan
dari Air Aquadest = 1.22 mg/L.SiO2


|
|
|
|




|
|||
|
|||
|
|


VI.
Analisa
Percobaan
Dari percobaan ini
dapat dianalisa sebagai berikut. Kami melakukan praktikum penentuan kondisi
pengendapan optimum dari koagulasi-flokulasi. Sampel air yang digunakan adalah
campuran air dengan sedikit tanah liat merah. Kemudian campuran diaduk hingga
homogen. Setelah campuran homogen,campuran dipisahkan menjadi 4 sampel.
Masing-masing sampel di taruh di gelas kimia 600 ml. Kemudian masing-masing
sampel di beri tawas 1% dengan volume yang berbeda. Sampel 1 volume tawas 2.5
ml,sampel 2 volume tawas 5 ml, sampel 3 volume tawas 7.5ml dan sampel 4 volume
tawas 10 ml. Kemudian masing-masing sampel diaduk dengan alat jar test selama
10 menit dengan kecepatan yang diinginkan. Kemudian ,setelah 10 menit diaduk
dengan alat jar test setiap sampel didiamkan selama 10 menit. Setelah itu
masing-masing sampel di cek nilai kekeruhannya dengan alat turbidimeter. Nilai
kekeruhan sampel 1 adalah 39.4 mg/L.SiO2 , sampel 2 = 37.9 mg/L.SiO2
,sampel 3= 24.7 mg/L.SiO2 dan sampel 4 =16.7 mg/L.SiO2 . Setelah itu masing-masing sampel dipindahkan
dalam gelas ukur. Kemudian ,setiap sampel didiamkan dan diamati waktu
pengendapannya sampai semua kotoran mengendap semua dan sampel berubah menjadi
bening.
Dari pengamatan
ini,sampel dengan volume tawas paling banyak memerlukan waktu paling cepat
untuk mengendap. Karena semakin banyak jumlah volume tawas dalam sampel,maka
semakin besar kemampuan tawas untuk menyerap kotoran dan semakin cepat waktu
pengendapan. Dan waktu yang diperoleh masing-masing sampel untuk mengendap
yaitu sampel 1 =12,49 menit, sampel 2 =11,22 menit ,sampel 3 =10,42 menit dan
sampel 4 = 10 menit.
VII.
Kesimpulan
Dari percobaan ini dapat disimpulkan
sebagai berikut :
·
Semakin banyak volume tawas dalam
sampel,maka semakin besar kemampuan tawas untuk menyerap kotoran dan semakin
cepat waktu pengendapan.
·
Koagulasi adalah destabilasi muatan
partikel koloid,suspend solid halus dengan penambahan koagulan disertai dengan
pengadukan cepat untuk mendispersikan bahan kimia secara merata.
·
Proses flokuasi dalam pengolahan air
bertujuan untuk mempercepat proses penggabungan flok-flok yang telah dibibitkan
pada proses koagulasi.
·
Faktor-faktor yang mempengaruhi proses
koagulasi antara lain :
-
Kualitas air
-
Kesadahan
-
Jumlah dan karakteristik koloid
-
pH
-
pengadukan cepat
-
temperatur air
-
alkalinitas air
-
karakteristik ion-ion dalam air
VIII.
Daftar
Pustaka
·
Hilwatulisan,S.T,M.T.2014.Penuntun Praktikum Teknik Pengolahan Limbah. Palembang : POLSRI.
Tugas dan Penyelesaian.
1. Tentukan dosis optimum dari koagulan
yang digunakan!
JAWAB:
Dari percobaan di atas dapat dilihat bahwa dosis optimum dari koagulan
yang digunakan adalah pada percobaan menggunakan 2.5ml,5ml,7.5ml,10ml tawas 1
%.
2. Uraikan mengenai proses koagulasi
JAWAB :
Koagulasi didefinisikan sebagai
proses destabilisasi muatan koloid padatan tersuspensi termasuk bakteri dan
virus, dengan suatu koagulan. sehingga akan terbentuk flok-flok halus yang
dapat diendapkan, proses pengikatan partikel koloid. Pengadukan cepat (flash
mixing) merupakan bagian integral dari proses koagulasi. Tujuan pengadukan
cepat adalah untuk mempercepat dan menyeragamkan penyebaran zat kimia melalui
air yang diolah. Koagulan yang umum dipakai adalah alumunium sulfat, feri
sulfat, fero sulfat dan PAC.
Jika ion-ion atau koloid
bermuatan positif (kation) ditambahkan kedalam koloid target koagulasi, maka
kation tersebut akan masuk kedalam lapisan difusi karena tertarik oleh
muatan negatif yang ada permukaan partikel koloid. Hal ini menyebabkan
konsentrasi ion-ion dalam lapisan difusi akan meningkat. Akibatnya, ketebalan
lapisan difusi akan berkurang (termampatkan kea rah permukaan partikel).
Pemampatan lapisan difusi ini akan mempengaruhi potensial permukaan partikel
koloid, gaya tolak menolak antar partikel serta stabilitas partikel koloid.
Penambahan kation hingga mencapai suatu jumlah tertentu akan merubah besar
partikel kesuatu tingkat dimana gaya tarik menarik Van der Walls antar partikel
dapat melampaui gaya tolak menolak yang ada. Dengan demikian, partikel koloid
dapat saling mendekati dan menempel satu sama lain serta membentuk mikroflok.
(Farooq dan Velioglu, 1989).
Ion-ion atau koloid bermuatan
positif (kation) yang ditambahkan untuk meniadakan kestabilan partikel koloid
tersebut dapat dihasilkan dari senyawa organic dan anorganik tertentu yang
disebut koagulan. Zat kimia yang digunakan dalam proses ini meliputi
ion-ion metal seperti alumunium atau besi, yang mana akan terhidrolisa dengan
cepat untuk membentuk presipitat yang tidak larut dan polielektrolit organik
alam atau sintetik, yang mana dengan cepat teradsoprsi pada permukaan partikel
koloid, dengan demikian mempercepat laju pembentukan agregat dari partikel
koloid (Montgomery, 1985).
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi proses
koagulasi sebagai berikut :
Suhu air
Suhu air yang rendah mempunyai pengaruh terhadap
efisiensi proses koagulasi. Bila suhu air diturunkan , maka besarnya daerah pH
yang optimum pada proses kagulasi akan berubah dan merubah pembubuhan dosis
koagulan.
Derajat Keasaman (pH)
Proses koagulasi akan berjalan dengan baik bila berada
pada daerah pH yang optimum. Untuk tiap jenis koagulan mempunyai pH optimum
yang berbeda satu sama lainnya.
Jenis Koagulan
Pemilihan jenis koagulan didasarkan pada pertimbangan
segi ekonomis dan daya efektivitas daripadakoagulan dalam pembentukan flok.
Koagulan dalam bentuk larutan lebih efektif dibanding koagulan dalam bentuk
serbukatau butiran.
Kadar ion terlarut
Pengaruh ion-ion yang terlarut dalam air terhadap
proses koagulasi yaitu : pengaruh anion lebih bsar daripada kation. Dengan
demikian ion natrium, kalsium dan magnesium tidak memberikan pengaruh yang
berarti terhadap proses koagulasi.
Tingkat kekeruhan
Pada tingkat kekeruhan yang rendahproses destibilisasi
akan sukar terjadi. Sebaliknya pada tingkat kekeruhan air yang tinggi maka
proses destabilisasi akan berlangsung cepat. Tetapi apabila kondisi tersebut
digunakan dosis koagulan yang rendah maka pembentukan flok kurang efektif.
Dosis koagulan
Untuk menghasilkan inti flok yang lain dari proses
koagulasi dan flokulasi sangat tergantung dari dosis koagulasi yang dibutuhkan
Bila pembubuhan koagulan sesuai dengan dosisyang dibutuhkan maka proses
pembentukan inti flok akan berjalan dengan baik.
Kecepatan pengadukan
Tujuan pengadukan adalah untuk mencampurkan koagulan
ke dalam air. Dalam pengadukan hal-hal yang perlu diperhatikan adalah
pengadukan harus benar-benar merata, sehingga semua koagulan yang dibubuhkan
dapat bereaksi dengan partikel-partikel atau ion-ion yang berada dalam air.
Kecepatan pengadukan sangat berpengaruh terhadap pembentukan flok bila
pengadukan terlalu lambat mengakibaykan lambatnyaflok terbantuk dan sebaliknya
apabila pengadukan terlalu cepat berakibat pecahnya flok yang terbentuk
Alkalinitas
Alkalinitas dalam air ditentukan oleh kadar asam atau
basa yang terjadi dalam air (Tjokrokusumo, 19920. Alkalinitas dalam air dapat
membentuk flok dengan menghasil ion hidroksida pada reaksihidrolisa koagulan.
3. Uraikan mengenai proses flokulasi!
JAWAB :
JAWAB :
Flokulasi merupakan proses
pembentukan flok, yang pada dasarnya merupakan pengelompokan/ aglomerasi antara
partikel dengan koagulan (menggunakan proses pengadukan lambat atau slow
mixing), Proses pengikatan partikel koloid oleh flokulan. Pada flokulasi
terjadi proses penggabungan beberapa partikel menjadi flok yang berukuran
besar. Partikel yang berukuran besar akan udah diendapkan.
Agar patikel koloid dapat
menggumpal, gaya tolak-menolak elektrostatik antara partikelnya harus dikurangi
dan transportasi partikel harus menghasilkan kontak diantara partikel yang
mengalami destabilisasi. Setelah partikel-partikel koloid mengalami
destabilisasi, adalah penting untuk membawa partikel-partikel tersebut ke dalam
suatu kontak antara satu dengan yang lainnya sehingga dapat menggumpal dan
membentuk partikel yang lebih besar yang disebut flok. Proses kontak ini
disebut flokulasi.
Proses pengolahan umumnya melibatkan proses fisika
maupun kimia. Pada proses fisika antara lain penyaringan (screening), filtrasi
dan pengendapan, sedang proses kimia umumnya netralisasi, koagulasi, flokulasi
serta aerasi. Pengolahan air buangan yang dilakukan dengan proses koagulasi dan
flokulasibertujuan untuk memisahkan polutan koloid tersuspensi dari dalam air
dengan memperbesarukuran partikel-partikel padat yang terkandung didalamnya.
Pada proses koagulasi ditambahkan sejenis bahan kimia
ke dalam air buangan dengan sifat-sifat tertentu yakni dapatmemberikan muatan
(+) yang akan menetralkan muatan (-) yang pada umumnyadimilikioleh suatu koloid
yang disebut koagulan.
Jenis koagulan yang biasa ditambahkan antara lain :
Al2(SO4)3, FeSO4, FeCl3, atauPAC (Poly Alumunium Chlorida). Selain pembubuhan
koagulan diperlukan pengadukansampai flok-flok ini terbentuk dari
partikel-partikel kecil dan koloid yang bertumbukan dan akhirnya mengendap
bersama-sama.
Flok-flok yang telah terbentuk dipisahkan dari
larutannya dengan sedimentasi. Sedimentasi merupakan proses pemisahan partikel
dari cairannya, baik partikel yang memang telah ada di dalam air baku, yang terbentuk
sebagai akibat penambahan bahan kimia, maupunpartikel yang dihasilkan dari
flokulasi fisis yang digabungkan dengan pengolahan biologis,dengan memanfaatkan
gaya gravitasi.
Kestabilan koloid dapat dikurangi dengan proses
koagulasi (proses destabilisasi) melalui penambahan bahan kimia dengan muatan
berlawanan. Terjadinya muatan pada partikel menyebabkan antar partikel yang
berlawanan cenderung bergabung membentuk inti flok. Proses koagulasi selalui
diikuti oleh proses flokulasi, yaitu penggabungan intiflok atau flok kecil
menjadi flok yang berukuran besar. Proses koagulasi-flokulasi terjadi pada unit
pengaduk cepat dan pengaduk lambat. Pada bak pengaduk cepat, dibubuhkan bahan
kimia (disebut koagulan). Pengadukan cepat dimaksudkan agar koagulan yang dibubuhkan
dapat tercampur secara merata/homogen. Pada bak pengaduk lambat, terjadi
pembentukan flok yang berukuran besar hingga mudah diendapkan pada bak
sedimentasi.
Koagulan yang banyak digunakan dalam pengolahan air
minum adalahaluminium sulfat atau garam-garam besi. Kadang-kadang
koagulan-pembantu, seperti polielektrolit dibutuhkan untuk memproduksi flok
yang cepat mengendap. Faktor utama yang mempengaruhi koagulasi dan flokulasi
air adalah kekeruhan, padatan tersuspensi,temperatur, pH, komposisi dan konsentrasi
kation dan anion, durasi dan tingkatagitasiselama koagulasi dan flokulasi,
dosis koagulan, dan jika diperlukan, koagulan-pembantu.
4. Uraikan jenis-jenis pengolahan air
secara fisik!
JAWAB:
Pengolahan air secara fisik ,yaitu:
1. Proses flotasi banyak digunakan untuk
menyisihkan bahan-bahan yang mengapung seperti minyak dan lemak agar tidak
mengganggu proses pengolahan berikutnya. Flotasi dapat digunakan sebgaia cara
penyisihan bahan-bahan tersuspensi(clarification) atau pemekatan lumpur endapan
(sludge thickening) dengan memberikan aliran udara ke atas (air flotation).
2. Proses filtrasi di dalam pengolahan
air buangan,biasanya dilakukan untuk mendahului proses adsorbsi atau proses
reseverse osmosisnya,akan dilaksanakan untuk menyisihkan sebanyak mungkin
partikel tersuspensi dari dalam air agar tidak mengganggu proses adsorbsi atau
menyumbat membran yang dipergunakan dalam proses osmosa.
3. Proses adsorbsi,biasanya dengan
karbon aktif,dilakukan untuk menyisihkan senyawa aromatik(misalnya:fenol) dan
senyawa organik terlarut lainnya,terutama jika diinginkan untuk menggunakan
kembalil air buangan tersebut.
4. Teknologi membran (reverse
osmosis) biasanya diaplikasikan unit
unit pengolahan kecil,terutama jika pengolahan ditujukan untuk menggunakan
kembali air yang diolah. Biaya instalasi dan operasinya sangat mahal.
Komentar
Posting Komentar